Isra’ Mi’raj dan Makna Fundamental Shalat

Image

Isra Mi’raj dan Makna Fundamental Shalat
Oleh: Muhammad Irfan Helmy

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid al-Haram ke al-masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Isra: 1)
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad saw atas kekuasaan Allah SWT pada suatu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha. Isra adalah wisata bumi (rihlah ardliyah). Artinya, perjalanan yang berlangsung antara dua tempat yang keduanya berada di atas bumi. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad saw dari masjid al-Aqsha menuju tujuh lapisan langit, kemudian kembali lagi ke masjid al-Aqsha pada malam yang sama. Mi’raj adalah wisata langit (rihlah samawiyah) karena pada saat mi’raj, Nabi Muhammad saw naik menuju langit dengan tujuh lapisannya.
Dalam literatur sirah nabawiyah, peristiwa Isra Mi’raj dialami Nabi Muhammad saw pada tahun kesepuluh dari kenabiannya. Tepatnya pada malam yang kedua puluh tujuh dari bulan Rajab. Isra Mi’raj dilakukan oleh Nabi Muhammad saw setelah selama sepuluh tahun beliau mengemban misi sebagai rasul yang membawa ajaran tauhid. Dalam kurun waktu selama sepuluh tahun itu, berbagai macam peristiwa mengiringi perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw. Dari peristiwa yang menggembirakan seperti masuknya orang-orang terdekat beliau ke dalam Islam sampai dengan persitiwa yang menyakitkan dan tragis. Meski demikian, itulah konsekuensi dari setiap pembawa kebaikan. Ia tidak akan terlepas dari hambatan dan tantangan dari para penolaknya.
Dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw, beberapa peristiwa menyedihkan dialami Nabi Muhammad saw sehingga tahun itu dikenal dengan tahun kesedihan (‘am al-huzn). Hijrah Nabi Muhammad saw berserta para pengikutnya ke Thaif, ditolak oleh penduduk thaif dengan cara yang sungguh diluar batas kemanusiaan. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya tidak hanya terusir dari Thaif, tapi juga mengalami luka fisik yang cukup serius. Tubuhnya penuh luka dan giginya juga patah akibat lemparan benda-benda keras oleh penduduk Thaif.
Sebelum itu, juga pada tahun yang sama, Nabi Muhammad saw mengalami peristiwa menyedihkan dengan wafatnya dua orang yang sangat dicintainya sekaligus dua tiang penyangga dakwahnya, yaitu istrinya Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Dapat dikatakan, inilah peristiwa kematian yang teramat menyedihkan bagi Nabi Muhammad saw. Bagaimana tidak, keduanya adalah dua pilar yang sangat menentukan kesuksesan tugas beliau sebagai rasul utusan Allah. Selama sepuluh tahun itulah, keduanya telah memberikan yang terbaik bagi Nabi Muhammad saw yang tidak didapatnya dari selain keduanya.
Khadijah binti Khuwailid, adalah yang pertama meyakinkan Nabi Muhammad saw tentang kebenaran wahyu yang diterimanya di gua Hira. Tidak hanya itu, sebagai istri dan saudagar kaya raya, Khadijah memberikan semua yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah Nabi Muhammad saw. Maka wajar, jika kehidupan Nabi Muhammad saw dengan Khadijah adalah kenangan indah yang tidak mungkin dilupakannya. Kesedihan mendalam yang justeru dialami Nabi Muhammad saw setelah wafatnya Khadijah.
Abu Thalib juga telah memberikan yang terbaik bagi dakwah kemenakannya Muhammad saw. Rasa sayangnya kepada Nabi Muhammad saw mengalahkan semuanya. Ia tidak ingin Nabi Muhammad saw terancam jiwanya oleh kejahatan musyrikin Quraisy. Inilah yang kemudian mendorongnya untuk selalu menjaga Nabi Muhammad saw. Pendek kata, Abu Thalib telah memperlakukan Nabi Muhammad saw dengan perlakukan istimewa, bahkan lebih istimewa dari perlakuannya kepada anak-anaknya sendiri. Ketika para pembesar Quraisy datang kepadanya memohon agar ia meminta keponakannya untuk menghentikan dakwahnya, Abu Thalib tidak langsung menyanggupi permintaan itu. Dengan penuh kasih sayang, ia justeru mendialogkan permintaan itu dengan Nabi Muhammad saw yang kemudian dijawab oleh Nabi Muhammad saw dengan penuh ketegasan untuk tetap menjalankan dakwahnya kepada umat manusia.
Peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi setelah rentetan peristiwa menyedihkan dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw, sesungguhnya menjadi bukti perhatian dan kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad saw. Allah tidak membiarkan rasul-Nya terlena oleh kesedihan terus menerus yang dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan dakwahnya. Dia tidak membiarkan Nabi Muhammad saw berjuang dan berdakwah sendirian dalam keadaan yang demikian sulitnya. Ini membuktikan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw sesungguhnya berasal dari Allah SWT.
Karena itulah, Allah menguatkan dan memantapkan hati serta kayakinan Nabi Muhammad saw untuk terus berdakwah demi keagungan kalimatullah yang mulia dengan mengisrami’rajkannya pada suatu malam di bulan Rajab. Dengan Isra Mi’raj, Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa tugas mengemban misi kerasulan dan menyebarkan tauhid adalah tugas yang penuh dengan tantangan. Karena itu, sikap tawakkal dan berserah diri kepada Allah mutlak dilakukan. Bermunajat dan meminta pertolongan Allah adalah langkah yang mesti ditempuh dalam berdakwah kepada umat manusia.
Bagi para pengikutnya, Isra Mi’raj adalah bukti kebenaran kerasulan Nabi Muhammad saw. Isra Mi’raj dengan segala keluarbiasaannya tidak mungkin terjadi pada manusia kecuali manusia yang telah dipilih Allah SWT. Dengan begitu, Nabi Muhammad saw adalah manusia pilihan Allah SWT yang diangkatnya sebagai rasul kepada seluruh umat manusia. Ini semakin jelas dengan mu’jizat yang diberikan Allah SWT kepadanya, salah satunya adalah peristiwa Isra Mi’raj.
Di sisi lain, peristiwa Isra Mi’raj yang sungguh berada di luar jangkaun akal manusia sekaligus sebagai ujian atas keimanan seluruh pengikut Nabi Muhammad saw. Tidak hanya pada saat terjadinya, tetapi juga setelahnya dan hingga saat ini. Ini berarti bahwa keyakinan terhadap peristiwa Isra Mi’raj menjadi indikator keimanan kepada Allah SWT dan kerasulan Muhammad saw. Sebaliknya, penolakan atas kebenaran peristiwa menjadi indikator kekufuran kepada Allah SWT dan kerasulan Muhammad saw.
Peristiwa Isra Mi’raj sungguh bukan peristiwa yang sia-sia yang tidak berarti apa-apa bagi kehidupan orang mukmin. Satu hal penting dan fundamental dalam kaitan Isra Mi’raj adalah ketetapan tentang kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam bagi umat pengikut Nabi Muhammad saw. Ini berarti bahwa ibadah shalat adalah ibadah yang mempunyai kedudukan sangat fundamental bagi setiap muslim. Jika tidak, mengapa Allah lebih dulu mengisrami’rajkan Nabi Muhammad saw sebelum menerima kewajiban shalat untuk dirinya dan umatnya? Sekali lagi, shalat adalah ciri utama yang menjadi pembeda antara pengikut Nabi Muhammad saw dan yang lainnya. Beliau bersabda,”Satu pengikat yang membedakan antara kita (mukminin) dan mereka (kafirin) adalah shalat. Siapa yang menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ia telah meruntuhkan agama.”
Kewajiban shalat mencerminkan kasih sayang Allah SWT kepada manusia. Dia mengetahui bahwa setiap manusia membutuhkan sarana berdialog dengan Tuhan untuk menyelesaikan masalah yang tidak sanggup diselesaikannya. Dan yang kuasa untuk menyelesaikan segala yang sulit adalah Allah SWT. Untuk itulah, manusia mesti mendekatkan jaraknya dengan Allah SWT. Shalat adalah media sangat efektif untuk semakin mendekatkan manusia dengan Allah SWT.
Dengan kata lain, shalat adalah media untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Tidak dimungkiri, spiritualitas adalah kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari setiap individu manusia. Spiritualitas adalah unsur yang melekat dalam diri setiap manusia, dimana pun dan kapan pun. Adalah mustahil manusia bisa hidup secara seimbang sebagai manusia hanya dengan memenuhi intelektualitas dan emosionalitas saja, tanpa spiritualitas. Dari sini, benar jika dikatakan bahwa manusia yang hidup sempurna adalah yang mampu menyeimbangkan antara ketiga dimensi tersebut. Dalam bahasa yang lebih populer, manusia sempurna harus mampu mencapai tiga kecerdasan, yaitu IQ, EQ dan SQ.
Dengan menegakkan shalat, seperti kata Nabi Muhammad saw, seorang manusia berarti telah melakukan mi’raj. Artinya, dengan shalat berarti manusia sedang melakukan penaikan spiritual yang dapat menembus sekat-sekat yang membatasinya antara dirinya dengan Allah SWT. Sekat-sekat itu tidak bisa ditembus kecuali dengan shalat. Ketika menegakkan shalat, walaupun manusia secara lahir berada di bumi yang merupakan alam manusia, tetapi pada hakikatnya ia sedang menaik menuju kepada suatu tempat dimana Allah berada dan itu hanya diketahui oleh Allah SWT sendiri.
Pertanyannya, shalat yang seperti apa yang layak disebut sebagai media mi’raj seorang mukmin? Jawaban sederhananya, adalah shalat yang tidak hanya bersifat ritualistik semata, tetapi shalat yang tetap dengan nilai-nilai spiritualitas di dalamnya. Dengan kata lain, shalat yang tidak hanya dilihat dari sisi kaidah fikih semata yang membahas sah atau tidaknya shalat itu dilaksanakan. Tetapi lebih dari itu, yaitu shalat yang mampu memberikan pengalaman spiritual mendalam bagi pelakunya yang ditandai dengan semakin intensifnya munajat yang dilakukan pelaku shalat. Jika demikian, maka shalat yang merupakan mi’raj seorang mukmin adalah shalat yang mampu menciptakan kualitas yang tinggi pada aspek keberagamaan dan spiritualitas manusia. Shalat seperti itulah yang akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam kesehariannya.
Akhirnya, jika Nabi Muhammad saw menerima kewajiban shalat setelah berisra mi’raj, maka setiap pengikutnya hendaknya mampu menjadikan shalat sebagai media mi’raj menuju puncak spiritualitas sebagai hamba Allah SWT. Wallahu a’lamIsra Miraj dan Makna Fundamental Shalat