Menghindari Kemewahan

Fenomena kemewahan tampaknya semakin merajalela dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terbukti dengan maraknya media massa baik elektronik maupun cetak yang menampilkan kemewahan kehidupan sebagian masyarakat.

Budaya konsumtif seakan menjadi pijakan hidup. Hedonisme menjadi tujuan hidup. Setiap aktifitas ditujukan untuk meraih kenikmatan demi kepuasan pribadi. Maka, tidak aneh jika ada kelompok masyarakat yang menghabiskan biaya mencapai miliaran rupiah hanya untuk merayakan ulang tahun atau resepsi pernikahan. Tidak hanya itu, kegiatan-kegiatan yang berorientasi kepada peningkatan intelektualitas, kesejahteraan rakyat dan manajemen kelembagaan pun tidak sedikit yang menghembuskan aroma kemewahan. Kemewahan telah menjadi ikon kehidupan masyarakat modern saat ini. Seiring dengan itu, krisis teladan kesederhaan tampaknya tengah melanda masyarakat.

Gaya hidup mewah akan melahirkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang ada dan memperbudak orang untuk terus mengikuti mode dan tren terbaru yang muncul. Dengan begitu, ia selalu  berusaha tampil lebih mewah daripada orang lain karena ingin selalu menang dalam kemewahan.

Orang yang bergaya hidup mewah cenderung mementingkan diri sendiri sehingga kurang peduli terhadap sesama terutama fakir miskin. Yang tampak dari dirinya adalah sifat serakah sehingga sulit berinfak atau bersedekah dari sebagian hartanya. Hidupnya lebih banyak diisi dengan perlombaan mengumpulkan materi. Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (QS. 102: 1-3)

Islam mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Keseimbangan ini akan mencegah manusia dari keserakahan dan gaya hidup mewah. Manusia akan sadar bahwa semua dorongan nafsu jasmaniah tidak semuanya harus dipenuhi. Hanya kebutuhan inti jasmani yang paling utama harus dipenuhi. Yang terpenting bukanlah ambisi mendapatkan apa yang belum ada tetapi bagaimana mensyukuri apa yang ada.  

Kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat sangat jauh dari kemewahan. Kehidupan mereka adalah teladan kesederhaan dan keseimbangan. Rasulullah SAW diceritakan segera menginfakkan uangnya ketika mengetahui bahwa ia masih memiliki uang yang belum diinfakkan. Bahkan, beliau sama sekali tidak meninggalkan harta ketika wafat. Begitupun dengan sahabat. Amr bin Ash ketika menjadi gubernur harus menunggu kering bajunya sebelum ia keluar istana menemui rakyatnya. Umar bin Abdul Aziz bahkan tercatat sebagai khalifah yang jumlah kekayaannya berkurang dibanding dengan sebelum ia menjadi khalifah. Abu Bakar  ashshidiq terkenal sebagai orang yang tidak pernah kalah dalam jumlah sedekah kepada fakir miskin.

Kesederhanaan akan menjadikan hidup lebih tenang dan tenteram. Kesederhanaan hendaknya menjadi pola hidup setiap muslim terutama para pemimpin, tokoh agama dan politik bangsa ini. Dalam salah satu do’anya Rasulullah SAW bermohon, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan (dari harta yang dimiliki).” Wallahu a’lam.

Jiwa yang Sehat

Jiwa yang Sehat

Jiwa adalah unsur yang tidak dapat dilepaskan dari manusia. Jiwa sangat menentukan perilaku manusia dalam kehidupannya. Jika jiwanya sehat, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbuatan baik. Begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain, kualitas perbuatan manusia tergantung pada kondisi jiwanya.

Jiwa yang akan meninggikan derajat manusia di sisi Allah adalah jiwa yang sehat.  Al-Qur’an menyebutnya dengan al-Nafs al-Muthmainnah. Inilah bentuk jiwa yang dengan ikhlas akan menemui Allah sekaligus memperoleh ridha-Nya. Allah SWT berfirman,”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89: 27-30)

Setiap manusia tentunya menghendaki jiwanya sehat. Sungguhpun demikian, jiwa yang sehat tidak begitu saja dapat dimiliki setiap manusia tanpa usaha apapun. Hanya kelompok manusia tertentu yang dapat meraih jiwa yang sehat. Dalam al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan karakteristik mereka lewat firman-Nya,”…Dan dia menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. 33: 27-28)

Berpijak pada ayat ini, menurut Said Hawa dalam buku Tarbiyatuna al-Ruhiyyah, manusia yang ingin memiliki jiwa yang sehat harus menempuh tiga jalan, yaitu bertaubat kepada Allah, memperkuat keimanan dan memperbanyak zikir.

Pertama, bertaubat kepada Allah. Taubat mencerminkan pengakuan seorang manusia atas kesalahannya dan permohonan atas pengampunan Allah bagi dirinya. Taubat yang sesungguhnya adalah taubat yang menggiring pelakunya meninggalkan secara total kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya. Inilah yang disebut dalam al-Qur’an dengan Taubat Nasuha.  Allah berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. 66: 8)

Kedua, memperkuat keimanan. Ini dilakukan dengan terus menerus menghayati tanda-tanda kebesaran Allah baik yang tertulis dalam al-Qur’an maupun yang terbentang di jagad raya. Keimanan yang kuat kepada Allah akan menghilangkan kegelisahan yang menyelimuti jiwa. Keimanan yang kuat dibuktikan dengan kontinyuitas amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. (QS. 103: 1-3)

Ketiga, memperbanyak zikir. Zikir yang sesungguhnya akan menjadikan pelakunya senantiasa ingat kepada Allah. Dampak positifnya, ia akan terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Orang yang lidahnya basah karena berzikir, jiwanya akan tenteram. Sebab, ia telah menemukan tempat mengadu yang paling tepat tentang segala masalah yang dihadapinya. Allah berfirman,”…Dan berzikirlah kamu sekalian sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. 62: 10)

Ketiga jalan di atas adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Artinya, hanya dengan menjalankan ketiga jalan itulah, kita akan memperoleh jiwa yang sehat dan tenteram dalam hidup kita. Wallahu a’lam

STAIN Salatiga Tambah Dua Doktor

STAIN Salatiga Menambah Dua Doktor

March 27, 2014

Download versi PDF  
Dr. Irfan Helmy - STAIN Salatiga

Dr. Irfan Helmy

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga menambah dua doktor baru yaitu Dr. H. Muh. Irfan Helmy, Lc., MA. dan Dr. H. Agus Waluyo, M. Ag, yang menyelesaikan studi pada Program Doktor tersebut di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dr. Agus Waluyo - STAIN Salatiga

Dr. Agus Waluyo

Kamis lalu (20/3) Irfan dapat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pemaknaan Hadis-Hadis Mukhtalif Menurut Asy-Syafi’i; Tinjauan Sosiologi pengetahuan” di hadapan para promotornya yaitu Prof. Dr. H. Suryadi, M.Ag. dan Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. Sedangkan (25/3) Agus Waluyo dapat pula mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pemikiran Ekonomi Islam M. Umer Chapra” di hadapan promotornya Prof. Dr. H. Abd. Salam Arief, M.A. dan Drs. Masyhudi Muqorobin, M.Ec., Ph.D., Akt. Dia dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan.

Kedua doktor tersebut merupakan dosen yang telah mengabdi lebih dari 13 tahun di STAIN Salatiga. STAIN Salatiga yang semula memiliki 18 dosen berstrata tiga (S3) dan  sekarang bertambah menjadi 20 dosen. Dengan bertambahnya doktor tersebut diharapkan STAIN Salatiga dapat menjadi lebih maju dan berkembang baik dari segi akademik maupun keilmuan. Penelitian-penelitian yang baru ditemukan diharapkan pula dapat disalurkan kepada para mahasiswa STAIN Salatiga. (irc)

Jangan Kenyang Sendiri

Sungguh indah ajaran Islam. Tidak hanya urusan ibadah yang menjadi perhatian Islam, tetapi juga perilaku sosial yang kental dengan urusan perut. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menegaskan, “Tidak sempurna iman salah seorang diantara kamu sekalian yang perutnya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.” (HR Muslim). Tegasnya, Islam melarang setiap pemeluknya bersenang-senang di atas penderitaan saudaranya yang lain.

Berpijak pada hadis di atas, jelaslah bahwa konsep tauhid dalam Islam, bukan konsep yang melangit dan hanya berhubungan dengan urusan keimanan kepada Allah SWT semata, tetapi konsep yang membumi. Bertauhid berarti juga mempunyai kepedulian sosial dan kecintaan terhadap sesama manusia. Karena itu, kesempurnaan tauhid seseorang salah satu indikatornya adalah kedermawanan.

Ironisnya, dalam kehidupan saat ini, masih tampak perilaku boros yang tidak jarang mengarah kepada kemubaziran. Ini dapat dilihat secara kasat mata dari pola makan, berpakaian dan aktifitas lainnya dari golongan tertentu dalam masyarakat. Ini terjadi akibat pengaruh luar yang menjadikan setiap aktifitas keseharian sebagai gaya dan tren hidup yang harus diikuti. Seiring dengan itu, kebiasaan foya-foya juga menjadi menu wajib kelompok tertentu. Semua itu terjadi, pada saat kasus kelaparan dan gizi buruk menyeruak sebagai fakta yang sulit dibantah. Adakah yang lebih ironis dari hal ini?

Sejak jauh-jauh hari Rasulullah saw memperingatkan untuk meninggalkan gaya hidup mubazir dan foya-foya ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Kita adalah suatu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan jika makan tidak sampai kenyang.” Secara kontekstual, anjuran berhenti makan sebelum kenyang ini, sesungguhnya selain untuk tujuan kesehatan juga supaya masih ada makanan yang bisa disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan sehingga terhindar dari sikap boros dan mubazir. Dengan kata lain, sehat tidak berarti harus boros apalagi mubazir.

Pentingnya kepedulian sosial dalam kehidupan muslim, dalam pandangan ulama kenamaan asal Mesir, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi bisa mengalahkan nilai ibadah yang sifatnya sunnah. Dalam bukunya, Fiqh al-Awlawiyyat, beliau menegaskan bahwa ibadah haji yang dilakukan untuk kedua kali dan seterusnya, nilainya tidak lebih tinggi daripada menyantuni kaum dhuafa dan miskin. Maksudnya, jika masih banyak golongan orang yang harus disantuni, maka alangkah lebih baik biaya ibadah haji itu dialihkan untuk membantu mereka yang membutuhkan sandang dan pangan.

Dalam konteks kepemimpinan, kepekaan dan kecekatan khalifah Umar bin Khattab terhadap kondisi rakyatnya, sungguh menjadi contoh nyata bagi para pemimpin bangsa ini. Jelas terlihat, betapa khalifah Umar bin Khattab sangat terluka hatinya ketika menyaksikan rakyatnya kelaparan di tengah ketersediaan bahan makanan di lumbung Negara. Kasus kelaparan yang semakin nyata dialami saudara kita di beberapa daerah, hendaknya dapat ditangani seperti yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab.

Lebih dari itu, marilah kita ketuk hati kita agar selalu sadar bahwa masih ada saudara-saudara kita yang merintih kelaparan pada saat kita lahap menyantap makanan. Semoga kita tidak termasuk golongan yang keimanannya ternoda akibat tidak peduli terhadap kondisi sesama. Wallahu a’lam