Menghindari Kemewahan

Fenomena kemewahan tampaknya semakin merajalela dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terbukti dengan maraknya media massa baik elektronik maupun cetak yang menampilkan kemewahan kehidupan sebagian masyarakat.

Budaya konsumtif seakan menjadi pijakan hidup. Hedonisme menjadi tujuan hidup. Setiap aktifitas ditujukan untuk meraih kenikmatan demi kepuasan pribadi. Maka, tidak aneh jika ada kelompok masyarakat yang menghabiskan biaya mencapai miliaran rupiah hanya untuk merayakan ulang tahun atau resepsi pernikahan. Tidak hanya itu, kegiatan-kegiatan yang berorientasi kepada peningkatan intelektualitas, kesejahteraan rakyat dan manajemen kelembagaan pun tidak sedikit yang menghembuskan aroma kemewahan. Kemewahan telah menjadi ikon kehidupan masyarakat modern saat ini. Seiring dengan itu, krisis teladan kesederhaan tampaknya tengah melanda masyarakat.

Gaya hidup mewah akan melahirkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang ada dan memperbudak orang untuk terus mengikuti mode dan tren terbaru yang muncul. Dengan begitu, ia selalu  berusaha tampil lebih mewah daripada orang lain karena ingin selalu menang dalam kemewahan.

Orang yang bergaya hidup mewah cenderung mementingkan diri sendiri sehingga kurang peduli terhadap sesama terutama fakir miskin. Yang tampak dari dirinya adalah sifat serakah sehingga sulit berinfak atau bersedekah dari sebagian hartanya. Hidupnya lebih banyak diisi dengan perlombaan mengumpulkan materi. Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (QS. 102: 1-3)

Islam mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Keseimbangan ini akan mencegah manusia dari keserakahan dan gaya hidup mewah. Manusia akan sadar bahwa semua dorongan nafsu jasmaniah tidak semuanya harus dipenuhi. Hanya kebutuhan inti jasmani yang paling utama harus dipenuhi. Yang terpenting bukanlah ambisi mendapatkan apa yang belum ada tetapi bagaimana mensyukuri apa yang ada.  

Kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat sangat jauh dari kemewahan. Kehidupan mereka adalah teladan kesederhaan dan keseimbangan. Rasulullah SAW diceritakan segera menginfakkan uangnya ketika mengetahui bahwa ia masih memiliki uang yang belum diinfakkan. Bahkan, beliau sama sekali tidak meninggalkan harta ketika wafat. Begitupun dengan sahabat. Amr bin Ash ketika menjadi gubernur harus menunggu kering bajunya sebelum ia keluar istana menemui rakyatnya. Umar bin Abdul Aziz bahkan tercatat sebagai khalifah yang jumlah kekayaannya berkurang dibanding dengan sebelum ia menjadi khalifah. Abu Bakar  ashshidiq terkenal sebagai orang yang tidak pernah kalah dalam jumlah sedekah kepada fakir miskin.

Kesederhanaan akan menjadikan hidup lebih tenang dan tenteram. Kesederhanaan hendaknya menjadi pola hidup setiap muslim terutama para pemimpin, tokoh agama dan politik bangsa ini. Dalam salah satu do’anya Rasulullah SAW bermohon, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan (dari harta yang dimiliki).” Wallahu a’lam.

Jiwa yang Sehat

Jiwa yang Sehat

Jiwa adalah unsur yang tidak dapat dilepaskan dari manusia. Jiwa sangat menentukan perilaku manusia dalam kehidupannya. Jika jiwanya sehat, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbuatan baik. Begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain, kualitas perbuatan manusia tergantung pada kondisi jiwanya.

Jiwa yang akan meninggikan derajat manusia di sisi Allah adalah jiwa yang sehat.  Al-Qur’an menyebutnya dengan al-Nafs al-Muthmainnah. Inilah bentuk jiwa yang dengan ikhlas akan menemui Allah sekaligus memperoleh ridha-Nya. Allah SWT berfirman,”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89: 27-30)

Setiap manusia tentunya menghendaki jiwanya sehat. Sungguhpun demikian, jiwa yang sehat tidak begitu saja dapat dimiliki setiap manusia tanpa usaha apapun. Hanya kelompok manusia tertentu yang dapat meraih jiwa yang sehat. Dalam al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan karakteristik mereka lewat firman-Nya,”…Dan dia menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. 33: 27-28)

Berpijak pada ayat ini, menurut Said Hawa dalam buku Tarbiyatuna al-Ruhiyyah, manusia yang ingin memiliki jiwa yang sehat harus menempuh tiga jalan, yaitu bertaubat kepada Allah, memperkuat keimanan dan memperbanyak zikir.

Pertama, bertaubat kepada Allah. Taubat mencerminkan pengakuan seorang manusia atas kesalahannya dan permohonan atas pengampunan Allah bagi dirinya. Taubat yang sesungguhnya adalah taubat yang menggiring pelakunya meninggalkan secara total kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya. Inilah yang disebut dalam al-Qur’an dengan Taubat Nasuha.  Allah berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. 66: 8)

Kedua, memperkuat keimanan. Ini dilakukan dengan terus menerus menghayati tanda-tanda kebesaran Allah baik yang tertulis dalam al-Qur’an maupun yang terbentang di jagad raya. Keimanan yang kuat kepada Allah akan menghilangkan kegelisahan yang menyelimuti jiwa. Keimanan yang kuat dibuktikan dengan kontinyuitas amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. (QS. 103: 1-3)

Ketiga, memperbanyak zikir. Zikir yang sesungguhnya akan menjadikan pelakunya senantiasa ingat kepada Allah. Dampak positifnya, ia akan terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Orang yang lidahnya basah karena berzikir, jiwanya akan tenteram. Sebab, ia telah menemukan tempat mengadu yang paling tepat tentang segala masalah yang dihadapinya. Allah berfirman,”…Dan berzikirlah kamu sekalian sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. 62: 10)

Ketiga jalan di atas adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Artinya, hanya dengan menjalankan ketiga jalan itulah, kita akan memperoleh jiwa yang sehat dan tenteram dalam hidup kita. Wallahu a’lam

Jangan Kenyang Sendiri

Sungguh indah ajaran Islam. Tidak hanya urusan ibadah yang menjadi perhatian Islam, tetapi juga perilaku sosial yang kental dengan urusan perut. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menegaskan, “Tidak sempurna iman salah seorang diantara kamu sekalian yang perutnya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.” (HR Muslim). Tegasnya, Islam melarang setiap pemeluknya bersenang-senang di atas penderitaan saudaranya yang lain.

Berpijak pada hadis di atas, jelaslah bahwa konsep tauhid dalam Islam, bukan konsep yang melangit dan hanya berhubungan dengan urusan keimanan kepada Allah SWT semata, tetapi konsep yang membumi. Bertauhid berarti juga mempunyai kepedulian sosial dan kecintaan terhadap sesama manusia. Karena itu, kesempurnaan tauhid seseorang salah satu indikatornya adalah kedermawanan.

Ironisnya, dalam kehidupan saat ini, masih tampak perilaku boros yang tidak jarang mengarah kepada kemubaziran. Ini dapat dilihat secara kasat mata dari pola makan, berpakaian dan aktifitas lainnya dari golongan tertentu dalam masyarakat. Ini terjadi akibat pengaruh luar yang menjadikan setiap aktifitas keseharian sebagai gaya dan tren hidup yang harus diikuti. Seiring dengan itu, kebiasaan foya-foya juga menjadi menu wajib kelompok tertentu. Semua itu terjadi, pada saat kasus kelaparan dan gizi buruk menyeruak sebagai fakta yang sulit dibantah. Adakah yang lebih ironis dari hal ini?

Sejak jauh-jauh hari Rasulullah saw memperingatkan untuk meninggalkan gaya hidup mubazir dan foya-foya ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Kita adalah suatu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan jika makan tidak sampai kenyang.” Secara kontekstual, anjuran berhenti makan sebelum kenyang ini, sesungguhnya selain untuk tujuan kesehatan juga supaya masih ada makanan yang bisa disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan sehingga terhindar dari sikap boros dan mubazir. Dengan kata lain, sehat tidak berarti harus boros apalagi mubazir.

Pentingnya kepedulian sosial dalam kehidupan muslim, dalam pandangan ulama kenamaan asal Mesir, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi bisa mengalahkan nilai ibadah yang sifatnya sunnah. Dalam bukunya, Fiqh al-Awlawiyyat, beliau menegaskan bahwa ibadah haji yang dilakukan untuk kedua kali dan seterusnya, nilainya tidak lebih tinggi daripada menyantuni kaum dhuafa dan miskin. Maksudnya, jika masih banyak golongan orang yang harus disantuni, maka alangkah lebih baik biaya ibadah haji itu dialihkan untuk membantu mereka yang membutuhkan sandang dan pangan.

Dalam konteks kepemimpinan, kepekaan dan kecekatan khalifah Umar bin Khattab terhadap kondisi rakyatnya, sungguh menjadi contoh nyata bagi para pemimpin bangsa ini. Jelas terlihat, betapa khalifah Umar bin Khattab sangat terluka hatinya ketika menyaksikan rakyatnya kelaparan di tengah ketersediaan bahan makanan di lumbung Negara. Kasus kelaparan yang semakin nyata dialami saudara kita di beberapa daerah, hendaknya dapat ditangani seperti yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab.

Lebih dari itu, marilah kita ketuk hati kita agar selalu sadar bahwa masih ada saudara-saudara kita yang merintih kelaparan pada saat kita lahap menyantap makanan. Semoga kita tidak termasuk golongan yang keimanannya ternoda akibat tidak peduli terhadap kondisi sesama. Wallahu a’lam

Indikator Kesalehan

Indikator Kesalehan

Kesalehan adalah buah penghayatan dan pengamalan ajaran agama secara sempurna. Ketika seorang muslim mengamalkan ajaran Islam berarti ia berada dalam proses pencapaian kesalehan. Pengamalan yang kontinyu terhadap ajaran Islam menjadi awal tertanamnya kesalehan dalam jiwa setiap muslim. Tegasnya, perintah menjalankan agama tujuan utamanya adalah mencetak hamba Allah yang saleh yang tidak hanya berakibat positif bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungannya.  

Kesalehan menjadi motivator pembentukan sikap terpuji dalam kehidupan nyata. Hal ini karena kesalehan menumbuhkan kesadaran dan keyakinan bahwa ajaran Islam hanya mengajarkan sesuatu yang baik dan terpuji. Kesadaran ini pada gilirannya mendorong pemiliknya untuk mengajak orang lain menjadi saleh. Dengan demikian, orang yang saleh mempunyai kepekaan tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.

Ini berarti bahwa kesalehan bukan sekadar predikat yang kosong dari makna, tetapi kesalehan adalah predikat yang membutuhkan bukti nyata dalam kehidupan. Pertanyaannya, apa indikator seseorang layak dikatakan sebagai orang saleh ?.

Dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan dua kategori indikator kesalehan manusia. Pertama, kesalehan individual. Indikatornya adalah kemampuan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya atau orang-orang yang dicintainya dan keteguhannya dalam berbuat amal saleh. Allah berfirman, “Dan dia (Nabi Sulaiman AS) berseru,”Wahai Tuhanku, berilah kepadaku kekuatan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku serta kekuatan untuk selalu berbuat amal saleh yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. 27: 19)

Dalam ayat lain, al-Qur’an menegaskan bahwa indikator kesalehan individual seseorang adalah kebiasaan bertobat atas maksiat dan dosa yang pernah dilakukannya. Dengan kata lain, tobat menjadi prasyarat utama terwujudnya kesalehan dalam diri seseorang. Allah berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertobat dan meraih kesalehan dan berpegang teguh kepada agama Allah dan ikhlas menjalankan agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman pahala yang besar.” (QS. 4: 146)

Kedua, kesalehan sosial. Indikatornya adalah mempunyai kepekaan sosial yang tinggi yang berawal dari keinginannya untuk memberdayakan orang-orang di sekelilingnya. Ini diantaranya dengan memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak yatim dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Pada hakikatnya, kesalehan sosial ini, adalah buah dari kesalehan individual yang sempurna. Berkaitan dengan kesalehan sosial, Allah berfirman, “Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. 107: 1-3)

Setiap muslim tidak cukup dan jangan berbangga diri hanya dengan kesalehan individual dan lalai terhadap kesalehan sosial. Keduanya adalah esensi dari keberagamaan. Beragama tanpa kesalehan adalah sia-sia yang berarti tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan positif baik secara individual maupun sosial. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sukses mencapai kesalehan individual dan sosial. Wallahu a’lam

Beribadah Seperti Sufi

Konon, di tengah munajatnya kepada Allah SWT, seorang sufi perempuan Rabi’ah al-‘Adawiyah berseru:”Wahai Tuhanku, seandainya engkau mengetahui bahwa aku melaksanakan perintah-Mu karena mengharap surga-Mu, maka tutuplah pintu surga untukku. Dan jika engkau mengetahui bahwa aku meninggalkan larangan-Mu karena takut neraka-Mu, maka masukkanlah aku ke dalam neraka-Mu.”
Ibadah para sufi adalah ibadah yang dilakukan tanpa pamrih. Bagi para sufi, ibadah adalah bukti nyata kecintaan mereka kepada Allah SWT. Ibadah yang dilandasi oleh kecintaan kepada Allah SWT, tidak lagi mengharap balasan pahala dari Allah SWT. Karena itu, dalam tingkatan ibadah seperti ini, menjalankan perintah Allah SWT, sama sekali bukan karena mengharap pahala. Sebaliknya, meninggalkan larangan juga bukan karena menghindar dari dosa. Pendek kata, cinta kepada Allah SWT adalah landasan utama ibadah para sufi.
Pada hakikatnya, tingkatan ibadah seperti ini, bukan hanya monopoli para sufi, tetapi mestinya juga merupakan ibadah setiap mukmin. Inilah yang sejak empat belas abad yang lalu ditegaskan oleh Rasulullah SAW dengan istilah Ihsan dalam ibadah. Ketika ditanya oleh Jibril Alaihissalam tentang hakikat Ihsan, beliau bersabda,”Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”
Belum maksimalnya kontribusi ibadah-ibadah umat Islam dalam membentuk masyarakat religius dengan etika dan moral yang tinggi, boleh jadi karena praktik ibadah masih terbatas pada dimensi fikih. Salat misalnya, seseorang dianggap sudah melaksanakan salat jika sudah memenuhi jumlah rakaat, rukun dan syaratnya. Salat belum ditinjau dari fungsinya sebagai media ibadah yang memberikan pengalaman berkomunikasi yang intensif dengan sang Khalik bagi pelakunya. Akibatnya, ibadah tidak memberikan efek yang dapat membangun pribadi pelakunya. Tak aneh jika kemudian pelaku ibadah tetap saja berperilaku amoral dan menyimpang.
Hal ini menjadi bukti bahwa pelaku ibadah belum sampai kepada esensi ibadah yang dikehendaki oleh Allah SWT, yaitu ibadah yang mampu merubah perilaku manusia dengan landasan kemurnian keta’atan dalam menjalankannya. Allah SWT berfirman,:”Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Praktik ibadah yang selama ini kualitasnya lebih banyak ditinjau dari aspek fikih, sudah saatnya ditingkatkan menjadi ibadah yang lebih bernilai tasawuf. Artinya, ibadah tidak lagi hanya dinilai dari sah atau tidaknya dilaksanakan menurut fikih, tetapi seberapa jauh ibadah itu mampu memberikan pengalaman komunikasi spiritual yang mendalam dengan sang Khalik bagi pelakunya. Jika ini terwujud, maka ibadah akan sangat berpengaruh positif terhadap perilaku pelakunya baik dalam berinteraksi dengan Allah SWT maupun dengan manusia dan lingkungannya. Wallahu a’lam

Akhlak Konsumsi

Akhlak Konsumsi

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw melihat salah seorang cucunya mengambil makanan dengan tangan kirinya, Beliau memberikan nasehat, “Makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang paling dekat darimu.” (HR Bukhari Muslim)

Ajaran Islam adalah ajaran yang mulia dan sempurna. Tidak hanya urusan bernegara dan berpolitik yang norma dan akhlaknya telah ditetapkan oleh Islam, tetapi juga soal mengonsumsi makanan dan minuman. Ini membuktikan bahwa kualitas keberagamaan dan spiritualitas seorang muslim tidak hanya dinilai dari semangatnya dalam memperjuangkan politik yang bersih dan beradab, tetapi juga dinilai dari kesempurnaan akhlaknya dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Paling tidak, ada tiga poin penting berkenaan dengan akhlak mengonsumsi makanan dan minuman. Pertama, berdo’a dengan menyebut nama Allah ketika hendak memulai makan dan minum. Ini mengandung pengertian bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia sesungguhnya adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Ketika nama Allah disebut oleh orang yang hendak makan dan minum, berarti ia mengharap berkah dari makanan dan minuman yang akan dikonsumsi.

Kedua, menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Dalam Islam, kanan adalah simbol kebajikan yang mengandung nilai terpuji. Karena itu, Rasulullah saw senantiasa membiasakan yang kanan (al-tayamun) dalam setiap aktifitas kesehariannya,  baik yang berhubungan dengan ibadah maupun akhlak. Secara kontekstual, pembiasaan tangan kanan dalam makan dan minum ini, dapat dimaknai pula sebagai perintah untuk selalu mendapatkan makanan dan minuman dengan cara yang baik dan terpuji. Dengan kata lain, makanan dan minuman itu harus mengandung kehalalan sempurna. Sebab, makanan dan minuman yang tidak halal hanya akan mengundang siksa Allah. Rasulullah saw bersabda,”Daging apa saja dalam tubuh manusia yang tumbuh dari makanan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas baginya.”

Ketiga, mengutamakan makanan atau minuman yang paling dekat. Adalah sangat indah dan santun ketika seorang muslim lebih mengutamakan makanan yang paling mudah diraihnya daripada yang jauh dan sulit diraihnya walaupun lebih lezat dan menarik. Akhlak ini sesungguhnya mengandung esensi bahwa setiap muslim dilarang bersikap tamak dan serakah sehingga selalu mengharap sesuatu yang tidak dimilikinya. Sebaliknya, setiap muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah, yaitu menerima dan merasa cukup sekaligus mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai nikmat dari Allah. Inilah yang disebut dengan kekayaan jiwa yang lebih tinggi nilainya daripada kekayaan harta atau materi. Rasulullah saw bersabda,”Bukanlah kekayaan itu dengan melimpahnya harta dan benda, melainkan kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” (HR Abu Ya’la).

Mengonsumsi makanan dan minuman sesungguhnya tidak hanya sebatas tujuan memenuhi kebutuhan jasmani semata. Lebih dari itu, bagi seorang muslim aktifitas makan dan minum adalah sarana untuk melejitkan kecerdasan spiritual dan emosional. Dengan demikian, setiap muslim akan menjauhi kebiasaan dan tata cara yang bertentangan dengan akhlak dan agama dalam aktifitas makan dan minum. Wallahu a’lam

Kontes Memamerkan Tubuh

Kontes Memamerkan Tubuh

Salah satu anugerah Allah SWT kepada manusia adalah anatomi tubuh yang sangat sempurna. Ini menjadikan manusia sebagai makhluk yang indah dipandang mata. Tidak ada makhluk lain yang mempunyai daya tarik sekuat yang dimiliki manusia. Karena itu, manusia wajib bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat keindahan bentuk fisiknya. Jika tidak, keindahan bentuk fisik itu boleh jadi akan membawa manusia kepada posisi yang merendahkan derajat kemanusiaannya. Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS Al-Tin: 4-5)

Ini berarti, betapapun indah dan sempurnanya bentuk fisik manusia, bukan alasan untuk memamerkannya. Apalagi jika itu jelas-jelas bertentangan dengan etika dan agama. Karena itu, dalam pandangan Rasulullah SAW, menata hati dan meningkatkan kualitas amal saleh jauh lebih baik daripada menata dan memoles bentuk fisik. Sebab, kemuliaan manusia di mata Allah SWT ditentukan oleh hati dan amal salehnya. Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kamu sekalian, melainkan kepada hati dan amal perbuatan kamu sekalian.”(HR. Bukhari)

Mengeksploitasi dan memamerkan tubuh adalah perilaku orang-orang munafik yang sangat dibenci Allah SWT. Itu mereka lakukan untuk memperdaya orang-orang mukmin agar menyimpang dari jalan Allah SWT. Hal ini seperti ditegaskan Allah SWT,”Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Karena itulah, Allah SWT mengingatkan isteri-isteri Rasulullah SAW agar menjaga diri mereka dari perilaku yang mengesankan eksploitasi dan pamer bagian-bagian tubuh. Ini dimaksudkan agar mereka terhindar dari perilaku orang yang berniat jahat kepada mereka. Allah SWT berfirman,” Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Peringatan Allah SWT ini, berlaku pula bagi semua perempuan mukmin kapan dan dimanapun mereka berada. Sayangnya, tidak semua perempuan mukmin menaati peringatan ini. Akibatnya, dengan dalih penggalian potensi SDM perempuan, promosi kebudayaan nasional atau aktualisasi diri, terjadi eksploitasi dan pamer tubuh perempuan secara terbuka. Hebatnya lagi, itu dibungkus oleh berbagai macam label kontes, baik berskala nasional maupun internasional.

Menggali potensi SDM perempuan jelas sesuatu yang positif. Tetapi, mengapa harus dicampuradukkan dengan eksploitasi tubuh mereka? Allah SWT berfirman,” Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42) Wallahu A’lam

Beramal Demi Generasi

Beramal Demi Generasi

Dikisahkan, di tengah kegiatan pemantauan terhadap keadaan rakyatnya, tiba-tiba pandangan khalifah Abu Bakar Ashshidiq ra tertuju kepada seorang kakek yang sedang menanam pohon korma. Didorong rasa keingintahuannya, khalifah lalu bertanya kepada kakek itu,”Wahai kakek tua, mengapa engkau masih saja sibuk menghabiskan waktumu hanya dengan menanam pohon korma itu, padahal engkau tidak akan dapat merasakan hasil pohon korma yang engkau tanam itu.” Mendengar pertanyaan bernada protes dari khalifah, kakek itu menjawab,”Wahai khalifah, walaupun aku tidak akan merasakan hasil pohon korma yang aku tanam, tetapi anak cucuku kelak pasti akan merasakan hasil pohon korma itu.”

Setiap manusia pasti akan mati dan mewarisi apa yang dimilikinya kepada generasi sesudahnya. Adalah sunnatullah jika generasi yang datang kemudian melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya. Permasalahannya kemudian, siapkah generasi yang lebih dahulu mempersiapkan warisan berharga untuk kepentingan generasi berikutnya ?

Jawaban kakek tua terhadap pertanyaan khalifah Abu Bakar ra di atas, sesungguhnya memberikan pesan mulia bahwa setiap amal saleh hendaknya tidak hanya bertujuan untuk kepentingan pribadi semata, tetapi juga dapat memberikan manfaat untuk generasi-generasi berikutnya. Dalam Islam, amal saleh seperti inilah yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya walaupun ia telah meninggal dunia. Rasulullah saw bersabda,”Jika salah seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan oleh generasi berikutnya, dan anak saleh yang mendo’akannya.” (HR. Ahmad)

Memberi perhatian kepada generasi penerus, dalam Islam adalah salah satu aspek penting yang menentukan keberlangsungan kehidupan manusia. Islam mengajarkan setiap muslim untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas tinggi. Ini dilakukan dengan mewujudkan segala bentuk amal yang berorientasi kepentingan jangka panjang dari generasi ke generasi baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, politik maupun budaya.

Hal ini karena generasi penerus yang lemah menjadi awal bagi rendahnya kualitas sumber daya manusia berikutnya. Karena itu, Allah SWT memperingatkan dalam al-Qur’an jangan sampai setiap mukmin meninggalkan di belakangnya generasi penerus yang rendah kualitasnya. Firman-Nya,”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. 4: 8)  

Peringatan Allah SWT ini, sesungguhnya sekaligus berisi ajakan beramal saleh dengan membangun sumber daya manusia yang unggul dan melestarikan sumber daya alam yang telah dikaruniakan kepada manusia. Pengelolaan sumber daya alam yang tidak baik sesungguhnya berbanding lurus dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia.  Wallahu a’lam 

Cerdas Menghisab Diri

Cerdas Menghisab Diri

Dikisahkan, ketika melakukan pemantauan terhadap keadaan rakyatnya,  khalifah Abu Bakar ra dengan ditemani oleh beberapa sahabat, memasuki lahan pertanian seseorang dari golongan Anshar. Ketika berada di tengah lahan pertanian itu, Abu Bakar melihat seekor burung terbang dari satu pohon kurma ke pohon kurma lainnya dan dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia pun duduk dan menangis. Para sahabat yang lain pun bertanya kepadanya, “Wahai khalifah, apa gerangan yang terjadi pada dirimu ?” Abu Bakar menjawab, “Aku menangis karena burung itu. Ia terbang dengan enaknya dari satu pohon ke pohon lainnya, lalu datang ke sumber air dan hinggap di pohon, kemudian mati tanpa ada hisab dan tanpa ada azab. Aduhai, sekiranya aku menjadi burung.”

Penghisaban atas semua amal perbuatan adalah hal yang pasti bagi setiap manusia. Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya menegaskan bahwa hari penghitungan (yaum al-hisab) adalah haqq. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari penghisaban di akhirat kelak. Ketika manusia telah kembali kepada Allah SWT, Dia akan melakukan penghitungan atas semua aktifitas manusia di dunia. Allah berfirman, “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. 88: 25-26)

Ketika hari penghisaban tiba, tidak ada lagi saat untuk beramal. Amal tidak lagi berguna pada saat itu. Karena itu, setiap manusia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penghisaban dengan memperbanyak amal di dunia. Al-Imam Ali bin Abu Thalib berkata, “Dunia itu selalu bergerak menjauh dari kehidupan manusia sedangkan akhirat selalu bergerak mendekatinya. Masing-masing dari keduanya mempunyai budak yang setia kepadanya. Maka, jadilah kamu sekalian sebagai budak akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi budak dunia. Sesungguhnya di dunia ini-lah tempat beramal dan tidak ada penghisaban sedangkan di akhirat nanti adalah saat penghisaban dan bukan tempat beramal.”

Amal yang akan menolong manusia di saat penghisaban nanti adalah amal saleh yang dilandasi dengan niat yang suci untuk mendapatkan ridha Allah semata. Karena itu, setiap manusia harus pandai melakukan evaluasi terhadap amal yang diperbuatnya di dunia agar senantiasa bersih dari noda yang dapat menghapus pahalanya. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.” (HR. Tirmidzi). Pernyataan senada juga ditegaskan Umar bin Khattab ra, “Hisablah diri kamu sekalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan berhias diri-lah (dengan amal) untuk menghadapi ujian terbesar. Sesungguhnya, penghisaban di hari kiamat itu hanya akan terasa ringan bagi orang yang terbiasa menghisab dirinya di dunia.”

Kebiasaan menghisab diri adalah bukti ketakwaan seorang mukmin. Dengan kebiasaan itu, semoga kita termasuk golongan yang ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya,” Adapun orang yang diberikan kitab (catatan) amalnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah.” (QS. 84: 7-8)     

Wallahu a’lam