Meraih Husnul Khatimah

Meraih Husnul Khatimah

Secara bahasa, husnul khatimah berarti akhir yang baik. Dalam Islam, husnul khatimah dimaknai dengan keadaan baik yang terjadi pada diri seseorang pada saat ia meninggal dunia. Artinya, saat-saat terakhir kehidupannya di dunia selalu diwarnai dengan amal saleh sampai dengan ajal menjemputnya. Kebalikan dari husnul khatimah adalah su’ul khatimah. Yaitu keadaan buruk yang terjadi pada diri seseorang pada saat ia meninggal dunia.

Akhir kehidupan seseorang  akan menentukan nasibnya di akhirat kelak. Jika berakhir dengan husnul khatimah, ia akan mendapatkan nikmat yang abadi dari Allah SWT. Sebaliknya, jika berakhir dengan su’ul khatimah, ia akan menanggung siksa yang pedih dari-Nya. Rasulullah SAW menegaskan,”Maka demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang diantara kamu sekalian benar-benar melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanya sepanjang hasta. Maka, belakulah ketentuan Allah atasnya dan ia pun melakukan perbuatan ahli neraka sehingga nanti ia benar-benar masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu sekalian benar-benar melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sepanjang hasta. Maka, berlakulah ketentuan Allah atasnya dan ia pun melakukan perbuatan ahli surga sehingga nanti ia benar-benar masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sedemikian pentingnya akhir dari kehidupan seorang muslim, sampai-sampai Rasulullah SAW mensejajarkannya dengan agama dan amanat yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, Ibnu Umar menceritakan bahwa Rasulullah SAW ketika akan berpisah dengannya, berkata,”Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir dari perbuatanmu.”

Akhir kehidupan manusia hanya diketahui oleh Allah SWT. Manusia hanya boleh berharap agar Allah mematikannya dalam husnul khatimah. Dikisahkan, suatu hari Sufyan al-Tsauri tampak sering menangis dan cemas. Salah seorang sahabatnya menasihatinya,”Tetaplah engkau berharap kepada Allah. Sesungguhnya ampunan Allah lebih besar daripada dosa-dosamu.” Sufyan al-Tsauri menjawab,”Tidak bolehkah aku menangisi dosa-dosaku? Jika saja aku telah mengetahui bahwa aku akan mati dalam keadaan tetap mengesakan Allah, maka aku tidak akan peduli dengan dosa-dosaku yang sebesar gunung-gunung itu.”

Ketika ajal menjemput, pada saat itulah akan terlihat keadaan yang asli dari setiap manusia. Yang terjadi pada saat itu adalah cerminan dari perilaku manusia semasa hidupnya. Jika baik, ia mengalami kemudahan saat ajal menjemputnya. Sebaliknya, jika buruk, ia akan tersiksa pada saat sakaratul maut. Jika ketika hidup di dunia, ia dapat mengucapkan perkataan-perkataan baik dan mulia untuk mengelabui orang lain, maka pada saat ajal menjemput, yang keluar dari mulutnya adalah gambaran keburukan hidupnya.   

Menjaga kehidupan agar berakhir dengan husnul khatimah adalah dengan selalu beramal saleh dan memantapkan akidah tauhid sebab kematian datang tiada terduga. Hal ini agar ketika kematian menjemput, seorang muslim tetap beramal saleh dan memegang akidah tauhid dengan kokoh. Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa yang akhir perkataannya menjelang ajal adalah kalimat la ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.” (HR.Abu Daud)  wallahu a’lam

 

Etika Pejabat

Etika Pejabat

Ketika menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khathab RA dikenal sebagai khalifah yang tegas, adil, jujur, sederhana dan amanah. Ia tidak pernah mengambil barang sedikit pun dari Baitul Mal. Perilaku terpuji ini, ia tegaskan dalam sebuah khutbahnya di atas mimbar, ”Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, aku tidak pernah mengambil sesuatu pun dari harta kalian, selain sepasang jubah atau sepasang pakaian ini.” Sepasang jubah itu dipakainya secara bergantian pada musim panas dan musim dingin.

Jabatan adalah satu bentuk keindahan dunia.  Naluri manusia selalu berkeinginan mendapatkan jabatan.. Sungguhpun demikian, Rasulullah SAW mengingatkan agar jabatan tidak menjadi bencana bagi orang yang memikulnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian sangat berambisi kepada jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dan kekecewaan pada hari kiamat nanti. Jadi, jabatan itu sangat nikmat awalnya tetapi sangat buruk kesudahannya.” (HR Bukhari)

Orang yang paling pantas memikul sebuah jabatan adalah orang yang paling mampu diantara yang lainnya. Karena itu, secara etis orang yang merasa tidak mampu, atau dianggap oleh orang lain tidak mampu, hendaknya tidak mengajukan diri untuk diangkat sebagai pejabat.

Suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,”Wahai Rasulullah, engkau telah mengangkat si fulan dan engkau telah mengangkat pula si fulan. Tetapi, mengapa engkau tidak mengangkatku?” Rasulullah SAW pun menepuk pundak Abu Dzar dan bersabda,”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah lelaki yang lemah dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanat. Sesungguhnya jabatan itu kelak pada hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang menerimanya dengan benar dan dia menunaikan kewajiban yang ada padanya.” (HR. Muslim)

Jabatan yang telah diamanatkan kepada seseorang tidak berarti menolerirnya untuk melakukan apa saja. Jabatan tidak menolerir seseorang melakukan penyimpangan atau memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Hanya upah dari jabatan itu yang halal dan boleh diterima seorang pejabat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diantara kamu yang kami pekerjakan untuk suatu tugas baik sedikit maupun banyak, hendaklah ia menunaikannya. Karena itu, apa yang diberikan kepadanya, boleh ia menerimanya dan apa yang dicegah darinya hendaklah ia menahan diri.” (HR Muslim)

Harta yang dihasilkan oleh seorang pejabat dengan cara yang haram akan menjadi siksa baginya di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diantara kamu yang kami pekerjakan untuk melakukan suatu tugas lalu ia menyembunyikan terhadap kami sebuah jarum dan yang lebih dari itu, maka perbuatannya itu adalah ghulul (penggelapan) yang akan dibebankan padanya pada hari kiamat nanti.” (HR Muslim)

Pejabat ideal yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah pejabat yang sayang dan cinta kepada rakyatnya. Ini dibuktikan dengan perilakunya yang adil, jujur, amanah dan selalu mempermudah urusan rakyatnya dan tidak mempersulitnya.  Pejabat seperti inilah yang selalu disebut Rasulullah SAW dalam do’anya, “Ya Allah, barang siapa yang memegang sesuatu dari urusan umatku, lalu ia bersikap mudah terhadap mereka, maka berikanlah kemudahan kepadanya dan barang siapa yang bersikap mempersulit mereka, maka persulitlah mereka.” (HR Muslim)